Sunday, September 30, 2012
sebentar.
sebelum baca... *kayak ada yang baca aja* tolong ditanamkan mindset kalo saya bukan termasuk cewek matre. bukan sama sekali. tapi saya realistis. dan kehidupan di dunia ini nggak lepas dari hal yang menyangkut materi, kan? dan post di bawah ini hanyalah hasil dari kecemburuan dan kekesalan dan emosi semata.
okay, here's the story.
duh-ya-saya-ngempet-banget-sama-kelakuan-pacar-saya.
tau nggak, waktu ultah saya yang terakhir kemarin, dia ngasih apa.
sekotak pocky. yang pisang lagi! masih mending kalo strawberry. ini pisang, pemirsaaaaah~ *emosi*
padahal-saya-benci-pisang. kecuali keripik pisang sale sama pisang goreng/bakar yang dikasih banyak parutan keju... out of topic ya jadinya. back!
bisa dibayangkan muka saya waktu dia ngasih itu... *nyengir ngempet mangkel tapi kalo dikeluarin kasian dianya, pengen nangis tapi ditahan banget*
ih, bukannya saya nggak ngehargain atau gimana loh ya.
saya ngehargain. banget.
tapi loh... saya... ngerasa nggak dihargain.
itu ulang tahun saya. setahun sekali.
saya BERHAK dan INGIN diistimewakan di hari itu.
dan saya SELALU--noted ya, SELALU--mengistimewakan dia di hari ulang tahunnya.
saya selalu mulai menyimpan uang untuk membeli kado paling nggak setengah bulan sebelum hari ulang tahunnya. kenapa? ya biar bisa beli kado yang pantas, yang nggak malu-maluin, yang membuat dia merasa diistimewakan. kalo bisa yang bikin dia surprise--saya bener-bener mikir keras untuk kado di ulang tahun terakhirnya.
'nggak ditraktir kali cowoknya...' sudaaaaaaaaaaah di tempat yang nggak main-main juga, di tempat yang dia suka, yang proper, yang nggak kacangan...
'nggak punya duit kali cowoknya...' duh, saya juga nggak punya uang, tapi itu kan gunanya menabung? saya yang borosnya setengah mati ini aja masih bisa saving some money for his birthday present. walaupun nggak banyak. walaupun sekedar 100-200 ribu.
'nggak diingetin kali cowoknya...' sudaaaaaaaaaaah dengan berbagai #kode #modus maupun #frontal.
'emang gak punya tradisi ngasih kado kali...' nah ini. yang kudu wajib harus dibahas.
sebelum sama saya... well, sebenarnya sebelum dan sesudah *agak-agak complicated, tapi biarlah* dia dekat dengan sahabat saya.
suatu saat, saya main ke rumah sahabat saya itu. di meja riasnya tergeletak sebuah kanvas kecil. ada sketch wajah sahabat saya di situ. sketch nya cantik sekali, persis dengan wajah sahabat saya yang memang cantik. dan tebak itu apa? yak, itu hadiah ulang tahun untuk sahabat saya dari cowok yang sekarang jadi pacar saya. handmade, pemirsa. nge-sketch sendiri. jenis kado yang lebih susah diperoleh dan lebih melekat di hati penerimanya. buktinya? sudah hampir 3 tahun, cowok itu sudah jadi pacar saya sekarang, tapi sahabat saya masih menyimpan skecth itu di meja riasnya.
cowok saya mau serta mampu untuk membuat kado seperti itu. kalo saya ngebahas ini sama cowok saya, jawabannya selalu 'emang perhatian itu selalu ditunjukkin sama kado, ya?' dan dalam hati saya menjawab 'kalo emang saya nganggepnya gitu, gimana?'
jadi, masalahnya ada pada saya dong?
not too worthy to spend your money, mind, and energy on, maybe? :')
Saturday, September 8, 2012
harusnya kamu yang minta maaf ke aku!
'ya udah, maaf aku udah khawatir'
jadi sekarang aku gak boleh khawatir?
'mulai sekarang, aku nggak bakal minta kamu ngabarin aku lagi'
please, tetep kabarin please :'(
'kamu udah gede, udah bisa jaga diri'
aku tetep khawatir sama kamu... aku tetep nggak bisa tenang kalo gak ada kabar dari kamu
'aku percaya kamu kok :)'
iya aku percaya... tapi aku tetep khawatir... sendirian, di kota lain, nggak ada siapapun...
Thursday, September 6, 2012
Pada suatu hari,
ada sepasang lelaki dan gadis.
Mereka sangat dekat. Mereka sering bermain bersama, menghabiskan waktu berdua.
Sang gadis sering membawa sebentuk kertas origami.
Ia akan membentuk kertas origami itu menjadi sebuah perahu kertas.
Namun, walaupun ia dapat melakukannya sendiri, ia membawanya ke teman lelakinya.
Ia ingin teman lelakinya juga ikut serta dalam kesenangannya membentuk kertas origami.
Walaupun temannya tidak rapi dalam melipat origami tersebut, bahkan terkadang perahu kertas yang mereka buat tidak mampu mengapung di air karena lipatannya yang tidak rapi dan mudah lepas, tetapi gadis itu senang.
Bukan hasilnya yang dia inginkan, tetapi waktu dan kesenangan yang ia dapat bersama teman lelakinya. Itu sudah cukup untuknya.
Bahkan terkadang, bukan gadis itu yang membawa origami, tetapi teman lelakinya.
Gadis itu senang karena walaupun teman lelakinya tidak pandai membuat origami, tetapi dia tetap mau membuat origami bersama. Menghabiskan waktu berdua, tenggelam dalam kebersamaan mereka.
Suatu saat, gadis itu membawa kertas origami seperti biasa. Ia mengajak teman lelakinya untuk membentuk kertas origami tersebut.
Namun yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan. Lelaki itu menolak untuk bermain bersama gadis itu. Ia mengomel tentang origami, bagaimana ia tidak pandai membentuknya, bahwa ia tidak sepandai sang gadis, dan ia tidak mau lagi membentuk origami bersama.
Gadis itu tersentak. Dalam hati ia ingin sekali menentang kata-kata sang lelaki. Gadis itu tidak mempermasalahkan kemampuan sang lelaki. Ia tidak peduli jika sang lelaki tidak pandai dalam bermain origami. Namun ia hanya diam. Lalu ia beranjak untuk mencari teman main yang lain. Namun teman lelakinya marah, mengambil kertas origami tersebut, merobeknya menjadi beberapa bagian, dan membuangnya sembarangan. Segera gadis itu meraih robekan-robekan kertas origami dan berusaha menyatukannya kembali dengan perekat. Sang lelaki menyadari kesalahannya, dan berusaha meminta maaf kepada sang gadis atas kesalahannya. Namun, sang gadis hanya terdiam sambil melihat kertas origami yang telah disatukannya. Walaupun telah disatukan dengan perekat, bekas robekannya masih tetap ada, dan tak bisa hilang... seperti rasa percayanya pada sang lelaki.