Tanggal 12-12-12 kemarin, UB ngadain pemira. Pemilihan ketua EM sama anggota DPM.
Jadi ceritanya, ada salah satu calon ketua EM dan anggota DPM yang berasal dari fakultas teknik.
Calon ketua EM nomor 3 itu anak jurusan mesin. Calon anggota DPM nya, anak PWK.
Kebiasaan di teknik itu, 1 fakultas 1 suara. Jadi, mahasiswa fakultas teknik diperintahkan *catet, diperintahkan, bukan dihimbau* untuk memilih calon-calon tertentu, yang pada pemira tahun ini, berasal dari fakultas teknik. Ada komando dari senior yang diturunkan sampai ke juniornya melalui Ketua Tingkat dan jarkom sms.
Terus, apa yang mau dibahas?
Nah, saya disini, percaya akan hak asasi masing-masing orang untuk memilih sesuai hati nurani.
Dalam pengertian saya, berarti setiap orang juga berhak untuk tidak memilih.
Tidak memilih kan juga suatu pilihan? :)
Saya pribadi, enggan memilih karena diperintah. Apalagi, saya tidak tahu track record dan sifat calon yang 'harus' dipilih. Jadi, waktu kemarin 'digiring' oleh ketua tingkat ke TPS terdekat, saya bingung sendiri dalam hati. Haruskah berbohong ke diri sendiri dengan memilih calon yang ditetapkan (atau calon manapun, karena tidak ada calon yang track record nya sudah terpublikasi dengan baik)?
Akhirnya, saya mengambil keputusan. Agak sedikit ngawur, the power of kepepet. Saat ketua tingkat lengah, saya keluar dari antrian. Bergabung dengan beberapa teman yang sudah mencoblos sebelumnya. Berpura-pura sudah mencoblos juga :D sewaktu ditanya apakah sudah memilih apa belum, saya berkata dengan mantap, 'sudah!' Dalam hati melanjutkan, 'sudah, saya memilih untuk tidak memilih...' :)


