Thursday, September 6, 2012

Pada suatu hari,
ada sepasang lelaki dan gadis.
Mereka sangat dekat. Mereka sering bermain bersama, menghabiskan waktu berdua.
Sang gadis sering membawa sebentuk kertas origami.
Ia akan membentuk kertas origami itu menjadi sebuah perahu kertas.
Namun, walaupun ia dapat melakukannya sendiri, ia membawanya ke teman lelakinya.
Ia ingin teman lelakinya juga ikut serta dalam kesenangannya membentuk kertas origami.
Walaupun temannya tidak rapi dalam melipat origami tersebut, bahkan terkadang perahu kertas yang mereka buat tidak mampu mengapung di air karena lipatannya yang tidak rapi dan mudah lepas, tetapi gadis itu senang.
Bukan hasilnya yang dia inginkan, tetapi waktu dan kesenangan yang ia dapat bersama teman lelakinya. Itu sudah cukup untuknya.
Bahkan terkadang, bukan gadis itu yang membawa origami, tetapi teman lelakinya.
Gadis itu senang karena walaupun teman lelakinya tidak pandai membuat origami, tetapi dia tetap mau membuat origami bersama. Menghabiskan waktu berdua, tenggelam dalam kebersamaan mereka.
Suatu saat, gadis itu membawa kertas origami seperti biasa. Ia mengajak teman lelakinya untuk membentuk kertas origami tersebut.
Namun yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan. Lelaki itu menolak untuk bermain bersama gadis itu. Ia mengomel tentang origami, bagaimana ia tidak pandai membentuknya, bahwa ia tidak sepandai sang gadis, dan ia tidak mau lagi membentuk origami bersama.
Gadis itu tersentak. Dalam hati ia ingin sekali menentang kata-kata sang lelaki. Gadis itu tidak mempermasalahkan kemampuan sang lelaki. Ia tidak peduli jika sang lelaki tidak pandai dalam bermain origami. Namun ia hanya diam. Lalu ia beranjak untuk mencari teman main yang lain. Namun teman lelakinya marah, mengambil kertas origami tersebut, merobeknya menjadi beberapa bagian, dan membuangnya sembarangan. Segera gadis itu meraih robekan-robekan kertas origami dan berusaha menyatukannya kembali dengan perekat. Sang lelaki menyadari kesalahannya, dan berusaha meminta maaf kepada sang gadis atas kesalahannya. Namun, sang gadis hanya terdiam sambil melihat kertas origami yang telah disatukannya. Walaupun telah disatukan dengan perekat, bekas robekannya masih tetap ada, dan tak bisa hilang... seperti rasa percayanya pada sang lelaki.

No comments:

Post a Comment