Thursday, December 13, 2012

Well, mau ngeluarin uneg-uneg nih.
Tanggal 12-12-12 kemarin, UB ngadain pemira. Pemilihan ketua EM sama anggota DPM.
Jadi ceritanya, ada salah satu calon ketua EM dan anggota DPM yang berasal dari fakultas teknik.
Calon ketua EM nomor 3 itu anak jurusan mesin. Calon anggota DPM nya, anak PWK.
Kebiasaan di teknik itu, 1 fakultas 1 suara. Jadi, mahasiswa fakultas teknik diperintahkan *catet, diperintahkan, bukan dihimbau* untuk memilih calon-calon tertentu, yang pada pemira tahun ini, berasal dari fakultas teknik. Ada komando dari senior yang diturunkan sampai ke juniornya melalui Ketua Tingkat dan jarkom sms.
Terus, apa yang mau dibahas?
Nah, saya disini, percaya akan hak asasi masing-masing orang untuk memilih sesuai hati nurani.
Dalam pengertian saya, berarti setiap orang juga berhak untuk tidak memilih.
Tidak memilih kan juga suatu pilihan? :)
Saya pribadi, enggan memilih karena diperintah. Apalagi, saya tidak tahu track record dan sifat calon yang 'harus' dipilih. Jadi, waktu kemarin 'digiring' oleh ketua tingkat ke TPS terdekat, saya bingung sendiri dalam hati. Haruskah berbohong ke diri sendiri dengan memilih calon yang ditetapkan (atau calon manapun, karena tidak ada calon yang track record nya sudah terpublikasi dengan baik)?
Akhirnya, saya mengambil keputusan. Agak sedikit ngawur, the power of kepepet. Saat ketua tingkat lengah, saya keluar dari antrian. Bergabung dengan beberapa teman yang sudah mencoblos sebelumnya. Berpura-pura sudah mencoblos juga :D sewaktu ditanya apakah sudah memilih apa belum, saya berkata dengan mantap, 'sudah!' Dalam hati melanjutkan, 'sudah, saya memilih untuk tidak memilih...' :)

Monday, December 10, 2012

my college life is more pathetic than the stories of my favourite tv series.
quote hari ini tuh.
here i am, in the corner of a classroom, alone.
sambil mikir nggak henti-hentinya, 'ini kenapa bisa jadi kayak gini siiih?'
si Rachel Berry aja di NYADA masih sama akang Brody ganteng itu.
nah sayaaa?
totally pathetic.
saya masih belum bisa move on dari pergaulan SMA.
bukan masalah homogen nya. kalo dilihat dari satu sisi, justru lingkungan PWK ini seharusnya lebih bersahabat. a fresh start. dengan latar belakang yang berbeda-beda. dengan kondisi ekonomi yang beragam pula. nongkrong di pinggir jalan dengan uang 5 ribu juga bisa. bukan seperti dulu, yang harus ke mall lalu nonton-makan-shopping yang minimal habis 100 ribu setiap kali jalan.
tapi...
kenapa jadinya seperti ini?
dimana semua orang seakan ingin ikut campur masalah orang lain.
menurut saya sih, itu namanya bukan kebersamaan, tapi kepo -_____-"
stereotip sekali. kalo kamu nggak ikut mayoritas... berarti kamu bakal dikucilkan. kamu nggak ikut itu, nggak ikut ini... say goodbye to your social life.
saya, dulu, sewaktu SMA, betah di sekolah. ikut kepanitiaan ini-itu. toh saya nggak ngerecokin teman-teman SBI saya untuk juga ikut kepanitiaan IPM. saya juga nggak menuntut teman-teman IPM saya untuk bisa berbaur dengan teman-teman SBI. karena memang saya sadar, dua kubu teman itu sudah beda lingkungan. lalu? ya sudah, dijalani saja. saya tidak mengucilkan teman SBI yang tidak ikut IPM. saya juga tidak mengucilkan teman IPM yang tidak SBI. simpel, kan?

jujur, dulu saya masuk jurusan ini, dengan ekspektasi dan semangat yang tinggi. siap ikut BEM. siap ikut ini-itu. siap jadi koordinator angkatan. siap berbaur dengan seluruh civitas, mulai senior sampai karyawan. seperti dulu di SMA. tapi, perlahan semangat itu luntur. ekspektasi yang dipasang terlalu tinggi. lingkungan yang tidak bersahabat...

mungkin saya juga yang salah. bukannya beradaptasi tapi sudah menarik diri. tetapi kejadian-kejadian dengan beberapa teman di kampus membuat saya muak. banyak sekali orang munafik di dunia ini, ya? sudah ditolong, bukannya berterima kasih, malah memfitnah yang tidak-tidak. jadi enggan rasanya, kapok, untuk kembali berbaur seperti dulu.

ya sudahlah, mau bagaimana lagi?